Tuesday, November 28, 2006

Sangat Pentingnya pengertian dalam suatu hubungan

Ketika seorang suami pulang ke rumah dengan energi yang cukup terkuras setelah aktivitas kesehariannya, disambutlah oleh seorang istrinya dengan setumpuk cucian dan wajah tampak kelelahan. baru juga suami tersebut menyandarkan diri utk beristirahat sejenak, tiba -tiba istrinya berkata,
Istri :"Pah, itu cucian masih numpuk tolong masukin ke mesin cuci yah"
lalu kata suaminya: "sebentar, tolong ambilkan air minum papah haus nih tadi kepanasan"
Istri: "iya, masukin dulu itu cuciannya kan air minumnya nanti bisa diambil sekalian sambil lewat di kulkas, mamah tanggung nih lg setrika"
Suami: "papah cape, ingin sandaran dulu punggung ini rasanya pegel jadi tolong ambilkan air minumnya"
Istri: " papah ini gmn sih, apakah tidak lihat?, mamah kan sedang setrika pakaiannya papah"
Suami: " mamah yg gimana, papah ini lelah habis kerja seharian, bukannya disediakan minuman malah cucian"
lalu kata istrinya: " sama mamah juga lelah habis beres2 rumah,ngurus anak, masakin makanan buat papah, cuman minta bantuin gitu aja susah"
Suami: " kapan sih mamah ngerti sama papah? lagi cape malah tambah pusing"
Istri: "papah juga harus ngerti dong, mamah mengurus pekerjaan rumahpun karena papah"
Suami: "memangnya papah banting tulang cari uang bukan untuk mamah? terserah deh!"
lalu kata istrinya: "ya sudah,serahkan saja!!"

Ujung2nya sang suami tetap kehausan dan cucian tetap numpuk,dan mereka jadi berantem.Padahal kalau dilihat hal tsb sangat sepele, tapi malah jadi menimbulkan masalah baru yang bisa membesar.
lalu apakah sang istri salah? atau suami yang salah?
Mereka tidak salah, tapi mereka tidak ada pengertian didalamnya.Bisa kebayang jika kita menjalin hubungan seperti itu rasanya seperti perang dunia ke-3 berantakan. Padahal mereka bertemu tiap hari dalam satu rumah dan satu tempat tidur.

Coba bagaimana dengan cerita dibawah ini,

Ketika seorang istri harus ikut juga membantu menafkahi keluarga dan seorang suamipun aktif bekerja. Mereka berduapun sibuk, lalu setiap menjelang pergi beraktivitas sang istri sibuk menyiapkan sarapan pagi dan sang suami menyiapkan kendaraan untuk mengantar istrinya. lalu istrinya berkata,
Istri :"Pah, mamah lagi bikin sarapan buat kita, nanti setelah papah siapin kendaraannya, tolong bantu mamah sediakan kopi buat kita berdua yah"
Suami: "iya,sebentar papah lagi manasin mesin kendaraannnya dulu"
lalu mesinnyapun dinyalakan, lalu dia tinggalkan setelah itu menghampiri istrinya
Suami :" mana kopinya? "
lalu istrinyapun bergegas mengambil 2 bungkus kemasan kopi&gula+susu minuman pelengkap sarapan mereka berdua wlpn dia masih sibuk memasak
Istri :"ini kopinya pah,diseduhnya pake air panas yg di dispenser aja"
lalu suamipun menyeduhnya dan menyimpannya dimeja makan dan sang istripun tidak lama kemudian menghidangkan masakannya dimeja itu.
Suami : "sudah beres yah mah masaknya, kayanya enak nih, harum banget aromanya.
lalu istrinyapun tersenyum sambil mencicipi kopi buatan suaminya
Istri : "biasa aja kok pah, mamah memang selalu istimewa buat papah, yah..kok, kopi buatan papah kepahitan sih"
Suaminyapun tersenyum :" Tuh, papah sudah sediakan gulanya karena papah sudah tahu selera mamah manis, wlpun papah suka kopi agak pahit"
Istri: " iya makasih pah, papah pengertian deh"
Suami: " mamah juga ngerti aja selera papah, tuh buktinya mamah sudah sediakan saus pedas buat papah, meskipun mamah tidak suka pedas, makasih juga yah mah"

Akhirnya mereka bersantap ria bersama, wlpun selera mereka berbeda tapi karena didalamnya ada sebuah pengertian hal yang mendasar sangat berbedapun menjadi bumbu kebersamaan keharmonisan mereka.

Kalo kita perhatikan dari kedua pasangan tadi. Kondisi,perbedaan bukan penghalang,sudah jelas kondisi pasangan kedua lebih sibuk dari pertama, perbedaan selera yang ada pada pasangan kedua pun justru menjadi sebuah sinergi yang saling melengkapi, bahkan mungkin selera pasangan pertama sama tapi tidak bisa membuatnya menjalin kebersamaan.tapi pasangan kedua bisa menyikapinya dengan mudah saja wlpn didalmnya ada perbedaan, bahkan adanya masalah makin menambah keharmonisan yang lebih indah.tapi pasangan pertama? mungkin tanpa ada masalahpun setiap komunikasinya jadi masalah. apalagi klo ada masalah, bukannya bahu membahu saling memberikan solusi tapi mungkin malah nambah masalah dan masalah baru.

Disinilah pentingnya sebuah pengertian dalam suatu hubungan, bukan hanya dalam suatu keluarga tapi dalam hal apapun sangat diperlukan.Analogi sederhana, coba perhatikan orang yang naik kendaraan sepeda motor dengan satu penumpang dibelakangnya, klo kedua-duanya ngotot pingin didepan untuk pegang setir/kendali. Bagaimana bisa? mungkin bisa, tapi apa yang terjadi? klopun sepeda motornya maju paling tabrakan dan keduanya celaka. Tapi kayanya belum pernah lihat orang yang naik sepeda motor kedua-duanya pegang kendali?, jangankan maju sampai tujuan. yang ada baru naik juga jatuh duluan. tidak percaya? coba aja..

Coba simak ayat dan hadist berikut ini :

"Laki-laki adalah pemimpin kaum wanita, karena Allah telah lebihkan mereka sebagian atas sebagian lainnya dan karena mereka telah membelanjakan sebagian hartanya.."(Qs. An-Nisaa' ayat 34) pengertiannya : "lelaki pemimpin wanita itu maksudnya ialah lelaki sebagai pemimpinnya, pembesarnya, pengaturnya, pengontrolnya kalau keliru".

"Dari Ummu Salamah ra, ujarnya: Rasulullah saw. bersabda: "Siapapun istri yang mati, sedangkan suaminya penuh keridhaan terhadap dirinya, niscaya ia akan masuk surga." (HR. Tirmidzi)

Allah Maha tahu dan Maha adil, bagaimana kalau tidak ada aturan ayat ini? bisa kacau balau, dari kedua pasangan itu pakeukeuh2 ingin jadi pemimpin pdhl teori kepemimpinan adalah harus ada yang dipimpin? dan kualitas seorang pemimpin muncul dari orang yang dipimpinnya.tidak heran jika ada kata-kata mutiara: "dibalik pria hebat pasti ada wanita yang lebih hebat"
bahkan dalam hadist diatas jika selama hidupnya seorang suami ridha atas pengabdian istrinya,maka jaminannya syurga.

Apakah hadist tsb berlaku buat pengabdian (bakti) suami yang wafat dan istrinya ridho?
Dan apa penyebab adam sampai keluar dari syurga, setelah adanya hawa yang
diciptakan dari tulang rusuknya yang bengkok?

Demikan coretan ini disampaikan, sebagai bagian dalam sebuah pembelajaran dan perenungan diri dalam meraih sebuah kebahagiaan hakiki.amin

Thursday, November 23, 2006

Kulit yang menembus langit

Putih..putih
hitam..hitam
layu..
segar...

Sering kulihat kulit-kulit itu dari pelosok desa sampai ibu kota
diam, berjalan dan berlari
semuanya kulit, tetap hidup dan terawat dalam roda dunia

Tak sengaja ketika kuterlena dalam pencarian
kutemukan kulit yang lain
tetap berwarna dan bercorak seperti biasa
tapi..
bukan hanya sebatas kesegaran yang kulihat
dia mampu menembus..

Apakah sebelumnya kulit itu telah mengenalku
aku rasa tidak, kulihatpun baru kali itu
diapun tidak mengundang hasrat dalam gejolak
karena dia adalah jenisku

Aku rasa diapun tidak kontak mata denganku
tapi dengan senyumnya yang tulus dia berkata "Assalammu'alaikum.."
hah! aku kaget kenalpun tidak gitu loh
dengan agak malu-malu aku jawab "wa'alaikumsalam wr wb.."
dalam hatiku terus bertanya siapa yah..
lalu dia menepuk pundakku dan seolah-olah berkata "saudaraku semuanya akan baik-baik saja" sambil dia pergi meninggalkanku.

Yah, aku melihatnya malam itu di sebuah mesjid
berkali-kali aku mencoba ingin menemuinya kembali ditempat dan waktu yang sama tapi tak pernah kulihat lagi.

Sungguh kulit yang indah

Pengendapan itu adalah proses

Air telaga itu begitu jernih sehingga nampak jelas sampai dasarnya, dengan aneka ragam karang, rumput2an dan berbagai corak ikan yang indah menghiasi didalamnya.begitupun ketika ada seekor buaya menghampirinya maka dengan jelas bisa mengetahuinya.

Tapi jika air itu sudah keruh, maka tidak nampak juga apa yang didalamnya, padahal bisa saja didalam telaga tersebut ada ikan yang sangat berharga.tapi karena tidak bisa melihatnya bahkan seekor pemangsapun dengan sangat leluasa bisa menyantapnya.

Yang menjadi pertanyaan adalah,bagaimana menjernihkan air yang keruh itu? tentu kita harus tahu dulu faktor penyebabnya, jika karena sebuah ulekan mungkin dalam hitungan hari bisa diendapkan sehingga bisa jernih kembali. tapi bagaimana jika penyebabnya adalah pencemaran seperti lumpur lapindo?:D tentu proses pengendapannya juga berbeda.

Memakan waktu yang cukup lama, energi dan biaya yang dikeluarkanpun cukup besar. penelitianpun dilakukan untuk mengetahui jat pencemar tesebut,karena tidak hanya ikan yang mati, air telaganyapun meluap sehingga banyak menimbulkan korban disekitarnya.

Begitupun dengan hati dan pikiran kita, katanya...
diperlukan kejernihan dalam melakukan dan memutuskan sesuatu, klo merasa masih keruh, maka endapkanlah dulu.

Maaf, kalo tidak nyambung seperti biasanya sambungkan aja, karena masih rada keruh juga nih hatinya, entah kena pencemaran zat apa, yang jelas bukan lumpur lapindo :D

Sebuah beban

Mungkin ada beberapa pilihan yang bisa kita lakukan dalam menyikapi beban tersebut.
Apakah kita akan menerimanya,menyimpannya, meninggalkannya atau bahkan membuang dan membakarnya..?


"Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (mereka berdoa) : "Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-oarang yang sebelum kami.Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami, ampunilah kami, dan rahmatilah kami.Engkaulah penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir".
(Qs.Al Baqarah 286)


Jika sebuah beban itu kita analogikan dengan sebuah gelas, dan jika gelas itu kita pegang dalam hitungan waktu perjam, perhari, perminggu, perbulan dan pertahun.semakin lama waktu yang dibutuhkan, maka akan semakin berat tekanan yang akan kita dapatkan. dan hal yang bisa kita lakukan simpanlah dulu beban tersebut untuk menghindari ketegangan dan menyegarkan sebelum mengangkatnya kembali.
(Steven C. )



Terimalah beban itu lalu galilah hikmah didalamnya, pupuklah dengan taburan ilmu, simpanlah dengan kematangan akal dan jiwa, rawatlah dengan kesabaran, tumbuhkanlah dengan rasa syukur dan ikhlaskanlah jika ditinggalkan.